Up and Down (Part 3 – FIN)

Salah satu hal indah yang aku kagumi di dunia adalah pelangi. Selain karena warnanya yang indah, hal lain yang membuatku jatuh cinta pada lengkungan warna-warrni itu adalah filosofinya. Pelangi selalu diibaratkan sebagai hal-hal indah dan harapan baru yang akan terjadi setelah hal-hal yang buruk (hujan) berlalu. Walaupun pada akhirnya, semakin bertambahnya usia membuatku belajar bahwa tidak selamanya pelangi muncul setelah hujan, tapi kisah pelangi dan hujan akan selalu menjadi favoritku sepanjang masa.

Like a rainbow after the rain, there’s always a good thing after the pain….

o-RAINBOW-facebook (1).jpg
pict available at Huffington Post

 

Seperti sudah dibahas pada cerita sebelumnya, butuh waktu berminggu-minggu buatku untuk bertahan setelah mengalami terpaan badai. Setelah melewati masa-masa berjuang dengan diriku sendiri, pada akhirnya aku mampu keluar dari fase itu dan mulai menata lagi kehidupan di bangku kuliah. Walaupun secara harafiah aku sudah bsa kembali tersenyum dan tertawa, tapi masih saja aku masih belum menemukan “kebahagiaan” yang sebenarnya. Aku duduk di bangku kuliah dan mengikuti seluruh perkuliahan tapi tanpa semangat apa-apa, hanya menjalani kuliah sebagai bagian dari kewajiban diri. Belum ada sesuatu yang benar-benar membuatku merasa bahwa ini adalah duniaku, bahwa Farmasi adalah sesuatu yang menyenangkan dan layak untuk diperjuangkan.

Aku mencoba berbagai cara untuk “menghidupkan” kembali dunia kuliahku. Berbagai upaya sudah kulakukan, mulai dari bergabung dengan organisasi kampus, mengikuti pelatihan ini dan itu, ikut kepanitiaan ini dan itu. Aku belajar banyak dari kegiatan itu, aku menikmati hal-hal baru yang aku coba, tapi entahlah.. aku tetap merasa ada yang kurang. Aku belum benar-benar bisa “klik” dengan itu semua. Ibarat makanan, semua memberikan rasa yang baru di lidah tapi belum sesuai dengan selera.

Salah satu trial and error yang kucoba adalah bergabung  dalam Science Community Group (SCG) di kampus. I have no idea at all tentang apa itu SCG, kegiatannya untuk apa, tujuannya untuk apa. Hanya sekilas melihat di papan pengumuman, lalu tertarik karena diajak teman untuk ikut bergabung. Jika aku merasa cocok, akan kuteruskan sampai akhir, jika tidak, ya sudah, aku pergi… Awal pertama kali pertemuan pun, aku baru menyadari bahwa aku dan beberapa teman 1 angkatan adalah anggota termuda. Termuda karena anggota lain adalah kakak-kakak kelas semua yang notabene 75% diantaranya sudah punya “nama” di kampus. Tanpa mereka memperkenalkan diri di depan banyak orang, semua juga sudah tau mereka siapa karena prestasinya yang sangat menyilaukan. Awal pertemuan, diisi dengan perkenalan dan belajar tentang konseling. Well, walaupun beberapa kali mendengar kata konseling, tapi jujur aku tidak benar-benar tahu apa itu konseling. Jadi jangankan diminta konseling, dasar-dasar konseling saja aku tidak tahu.

Pertemuan berikut-berikutnya, semakin menambah list-list hal-hal yang tidak aku ketahui. Tapi mungkin disitulah letak tantangan dan keseruannya. Satu hal unik dari diriku, untuk orang disekitarku pasti sudah tau fakta ini, aku benci ketidaktahuan. Jadi ketika aku tidak tahu, tidak paham, dan tidak mengerti tentang sesuatu, justru aku semakin tertantang mencari tahu sampai aku paham benar. Dan setelah paham, ternyata aku menemukan bahwa ada perasaan puas dan bahagia yang aku peroleh. Yes, i know, i’m freak! lol

Singkat kata, bergabung dengan SCG pada akhirnya kembali mengobarkan semangatku untuk belajar lagi. Dan lama kelamaan aku juga tahu bahwa ternyata tujuan adanya SCG adalah untuk mempersiapkan bibit-bibit baru untuk mengikuti event perlombaan baik lokal maupun nasional. Ooohh oke… -.- aku cukup terkejut, ini diluar dugaan awal…

Walaupun terlambat menyadari fakta ini, pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap bertahan di SCG, aku  tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi salah satu orang terpilih untuk mengikuti perlombaan itu. Berharap bahwa aku akan bisa jadi perwakilan iya, tapi ya sudah… hanya sekedar berharap, dan mungkin kalaupun terkabul pasti tidak dalam waktu dekat. Mungkin bisa tahun depan atau bahkan 2 tahun lagi, atau malah tidak sama sekali. Jangan banyak berharap, nanti jatuhnya sakit (self reminder). Dan singkat cerita, Tuhan mengabulkan harapanku di suatu sore yang cerah. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba suatu sore aku dipanggil oleh salah seorang dosen dan beliau memberitahuku bahwa dalam hitungan minggu aku akan berangkat bersama 3 orang lainnya unuk mengikuti perlombaan pertamaku di Padang, Olimpiade Farmasi Indonesia (OFI) VI. WOW!!!  Pertanyaan yang timbul, Kenapa saat itu aku yang terpilih diantara teman-temanku yang lain? Aku juga sempat mempertanyakan itu. Karena jika dari potensi akademis, aku tahu pasti, selain aku masih ada beberapa anak yang lebih wow lagi. Dan jawaban dari dosenku saat itu cukup membuatku terdiam, “kamu terlihat cukup mampu dan berani untuk itu” (ooh oke, ternyata aku terlihat strong?!). Aku masih ingat detak jantungku yang berdegup sangat kencang saat dosenku selesai menyampaikan berita bahagia itu, campuran antara senang, penasaran, sekaligus takut. INI BUKAN MIMPI KAANN??? *Cubit-cubit pipi sendiri*

Selama berminggu-minggu setelahnya, akhirnya aku memiliki ritme kehidupan yang baru. Jadi ketika teman-temanku hampir tiap hari mengeluhkan lelah belajar, bosan melihat buku, malas melihat jurnal, atau bahkan yang paling ekstrim, muak melihat kampus. Aku justru menghabiskan 3/4 waktu dalam sehari di kampus, 1/4 sisanya di rumah untuk tidur. Aku menenggelamkan diri pada tumpukan jurnal, buku-buku, dan presentasi-presentasi pagi, siang, dan malam. Awalnya terasa sangat sangaat berat, aku seolah tidak memiliki kehidupan lain selain berurusan dengan dunia Farmasi. Bahkan aku nyaris tidak menonton TV sama sekali sepanjang hari selama berbulan-bulan. Tidak pernah menonton film di bioskop berbulan-bulan juga. Walaupun begitu, aku merasa bahagia. Aku menikmati semua kesibukan-kesibukan yang menggila ini, i love study so damn much!!! (aku merasa semakin freak.. lol)

education-Canada-745x457.jpg
Pict available at studying-in-canada.org

Dan pada akhirnya, setelah melalui berminggu-minggu persiapan yang melelahkan dan perjuangan panjang, akhirnya tiba saatnya aku menggunakan amunisi yang sudah kupersiapkan selama berminggu-minggu untuk berjuang di OFI VI di Padang, Sumatera Barat. Saat itu aku bersama 3 orang perwakilan fakultas berangkat bersama-sama. Walaupun kami semua tahu tujuan kita sama untuk membawa piala kemenangan, tapi saat itu aku belum berani berharap terlalu besar. (INGAT, NANTI JATUHNYA SAKIT..) Aku tak membawa beban apapun berangkat ke Padang, que sera  sera, whatever will be will be… Pulang dengan tangan hampa pun aku sudah siap lahir batin. Kembali ke tujuan awalku, sejak awal mula aku membiasakan diri untuk tidak terlalu banyak berharap pada apa pun, karena berharap akan membuat kita semakin sakit jika tidak terwujud. Jadi, ketika aku memutuskan untuk bergabung dengan SCG, tujuanku bukanlah untuk menjadi pemenang, hanya mencari kebahagiaan. Mencari dunia yang aku sukai dimana aku bisa bertahan sampai akhir didalamnya tanpa ada rasa takut dan depresi yang mendalam.

Tapi Tuhan memang luar biasa.

Di saat aku sudah mulai bisa untuk berdamai dengan diriku sendiri dan menerima keadaanku sebagaimana adanya, Tuhan menambahkan hal yang lain yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku menemukan pelangi hidupku, pelangi yang selama ini aku cari ujung dan pangkalnya setelah badai hujan menerpa. Aku benar-benar menemukan pelangi itu saat aku berhasil untuk pertama kalinya dalam hidupku, mengangkat piala dan medali perak di OFI VI. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan berdiri di podium dan bisa berdiri di antara pemenang-pemenang yang lain dari universitas lain dari seluruh Indonesia. Aku benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku saat itu, sangat sangaaat luar biasa rasanya. (lebih luar biasa dari makan ice cream 5 scoop dengan rasa berbeda).

Kemenangan pertamaku di OFI VI membawa banyak pelajaran berharga dalam hidupku : Pertama. Sama seperti filosofi pelangi, hujan dan badai memang harus dilalui ketika kita ingin menemukan pelangi. Dan tidak berhenti sampai disana, saat kita sudah melewati gelapnya badai pun, pelangi tidak akan mudah begitu saja ditemukan, kita harus mencari pelangi itu sampai kita bisa menemukan pelangi yang kita inginkan. There is no instant way! Kalau mau bahagia ya berusaha, bahagia itu diusahakan, bukan untuk ditunggu. In my case, jika aku tidak merasakan hal-hal yang membuat duniaku terbalik, maka aku tidak akan bersusah payah mencari cara untuk kembali bahagia. Aku tidak akan bersusah payah mencari jalan keluar dari segara bentuk depresi itu dan ketika aku tidak berusaha, aku tidak akan memiliki apa yang aku miliki sekarang. Kedua. Jangan pernah menilai kebahagiaan kita dari kacamata dan sepatu orang lain. Oh si A enak ya bisa menang lomba basket, oh si B enak ya bisa jadi ketua BEM, oh si C enak ya orang tuanya tajir melintir. Stop doing that shit! Bahagia orang lain itu tidak sama, kalau aku bahagia dengan belajar dan mengikuti lomba-lomba yang lain, belum tentu orang lain akan bahagia dengan jalan yang kulalui ini. Jadi, kalau kita mau bahagia, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan diri mencari sepatu orang untuk dicoba pada diri sendiri. Cari sepatu terbaikmu sendiri. Sepatu orang lain akan nyaman dipakai hanya pada kaki orang itu, bukan pada kaki kita.

PhotoGrid_1451325425572.jpg
Sedikit cuplikan torehan tinta emas selama kuliah

Oke, kembali ke topik ya. Setelah kembali dari OFI VI, roller coaster kehidupanku mulai beranjak naik ke atas lagi. Naik dengan damai ke atas sehingga aku mulai bisa menikmati pemandangan di kiri dan kanan. Piala dan medali perak OFI VI pada akhirnya menjadi tonggak awal dari rangkaian kehidupanku selanjutnya yang semakin baik. Bulan-bulan selanjutnya, aku berhasil menorehkan tinta emas lain dalam OFI VII di Palembang dan bahkan -ini sesuatu yang tidak pernah terbayangkan- menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional di event PIMFI 2015. Mahasiswa dari universitas swasta pertama yang berhasil meraih penghargaan itu (maaf, bukan maksud diri sombong). Well, intinya bukan dari seberapa banyak akhirnya aku berprestasi selama kuliah. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengukir kebahagiaannya pada masa kuliah, ada yang bahagia dengan kehidupannya di organisasi kampus, ada yang bahagia dengan menjadi atlet kampus, ada yang bahagia dengan bekerja sambil jadi guru les anak SD atau SMP, ada yang bahagia dengan menjadi ketua KSM ini dan itu, ada yang bahagia dengan mengikuti pertukaran pelajar kemana-mana, dan macam-macam yang lainnya. Tidak ada yang salah. Semua orang berhak untuk bahagia dengan caranya masing-masing. Dan menurutku, sepanjang itu positif, bisa membangun diri menjadi lebih baik, itu layak  untuk dilakukan.

Cerita Up and Down ini kuputuskan untuk diakhiri disini, sebenarnya masih banyak kisah-kisah kecil dari serangkaian masa perkuliahan yang nano-nano rasanya. Mungkin someday aku akan membahasnya dengan kemasan-kemasan lain yang lebih berwarna. Yaaaaa, yang jelas yang bisa kusampaikan di akhir cerita ini, inti dari cerita-cerita berseri Up and Down adalah selain sebagai warisan untuk anak cucu kelak (bukti bahwa mama dan emaknya pernah merasakan serunya masa muda), aku cuma ingin berbagi kisah dengan kalian, terutama yang mungkin masih berjuang di perkuliahan. Kisah nyata dari seorang apoteker yang pada akhirnya bisa lulus dari dunia Farmasi yang “luar biasa”. Ini bukan cerita fiksi, semua adalah kisah nyata 100%. Setiap tetes tangisan itu nyata dan setiap kebahagiaan juga nyata.

Untuk kalian adik-adik  yang masih berada di bangku kuliah, apapun jurusannya. Kuliah tidak mudah dan tidak murah, kalau mudah dan murah semua orang di dunia bisa kuliah. Tapi kenyataannya tidak semua orang bisa kuliah. JADI, untuk kalian yang sudah atau masih berkuliah, artinya kalian semua termasuk sekian persen orang di dunia yang beruntung. Dunia perkuliahan tidak mungkin selamanya semulus jalan tol, pasti ada saja hal yang membuat kehidupan perkuliahan kalian terasa membosankan, melelahkan, bahkan memuakkan. PASTI! Tidak ada cara untuk menolak itu semua, selain menemukan your own rainbow. Carilah pelangimu sendiri dan jangan pernah menyerah sampai kamu mendapatkannya.

Sebagai penutup cerita ini, saya berikan 1 buah quote terbaik yang menjadi panutan hidup saya sampai saat ini.

40-Muhammad-Ali-Inspirational-Quotes3-600x449.jpg
Pict available at Hipwee

Berlatih itu tidak pernah menyenangkan, malah cenderung menyakitkan dan melelahkan, tapi jalani saja setiap titik latihan itu, menderitalah sekarang dan nikmati sisa hidupmu sebagai seorang pemenang. 🙂

Iklan

UP AND DOWN (Part 1)

Sesuai janji saya pada post sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang bagaimana kehidupan perkuliahan yang saya jalani. Tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini banyak ditanyakan oleh readers dan adik-adik yang akan kuliah atau sedang kuliah Farmasi tentang bagaimana sih sebenarnya kehidupan perkuliahan yang pernah saya alami dulu. Apakah kuliah Farmasi itu susah? Apakah kuliah Farmasi itu menyenangkan?

Tulisan saya kali ini murni adalah hasil pengalaman saya selama menjalani kuliah Farmasi selama 3,5 tahun + 1 tahun program pendidikan Profesi Apoteker di sebuah Universitas Swasta di Kota Surabaya. Apa yang saya alami bisa jadi sama dengan apa yang kalian alami atau bahkan mungkin berbeda. Semua kembali kepada situasi dan kondisi masing-masing. Yaaaa pesan saya, yang baik-baik dari pengalaman saya bisa dicontoh, yang buruk-buruk di jadikan pengalaman saja. Let’s start our story….

roller-coaster
Pict from http://www.worldatlas.com

Fase-fase dunia perkuliahan saya bisa diibaratkan sebuah roller coaster. Jadi ada fase dimana kereta melaju perlahan dengan santai, ada fase dimana tiba-tiba kereta naik perlahan, lalu tiba-tiba jatuh dengan cepat, bahkan juga berputar di udara.

Sama halnya ketika kita memulai permainan roller coaster, ada fase awal dimana roller coaster akan melaju dengan kecepatan rendah dan kita bisa dengan santai melihat pemandangan di kanan kiri. Kita bisa menikmati semilir angin saat duduk dalam kereta dan menikmati setiap jengkal kereta melaju. Fase ini saya alami di awal masa perkuliahan saya. Semester 1 dimulai dengan mata kuliah dasar yang sebagian besar mirip dengan materi-materi selama SMA, masih belum terlalu susah untuk diikuti. Praktikum juga masih belum terlalu banyak, jadi waktu untuk menikmati masa muda masih banyak. Bisa dipercaya atau tidak, saking banyaknya waktu, membuat saya jadi terlalu rajin (maaf sedikit sombong), contohnya waktu kuliah Kimia Umum. Mata kuliah ini pada dasarnya mirip sekali dengan mata kuliah Kimia di bangku SMA. Tapi karena dasarnya saya tidak pernah puas dan terlalu banyak waktu luang, jadi menjelang ujian saya meminjam buku latian soal dari perpus lalu saya kerjakan 1 per satu soal di buku itu. Oke, itu freak, but that’s true!!! Semester 1 berakhir dengan bahagia dan aman damai, tidak ada keributan yang berarti.

Kereta roller coaster masih melaju dengan aman di jalurnya..

Fase-fase menenagkan itu masih berlanjut hingga semester 2, semua masih baik-baik saja. Semua mata kuliah mulai menjurus ke arah dunia Farmasi yang sebenarnya, mulai dari Kimia Organik, Formulasi dasar, Farmakognosi, dan Farmakologi-Toksikologi.  Buat yang merasa asing dengan istilah itu, Kimia Organik itu suatu ilmu yang mempelajari molekul-molekul obat. Seperti H2O adalah rumus kimia untuk air, setiap obat juga punya rumus-rumus molekul seperti itu. Kimia Organik belajar bagaimana molekul A + molekul B akan menghasilkan zat baru molekul C. Serba molekular.

Farmakognosi itu ilmu tentang tanaman. Lebih tepatnya kita belajar mengenali tanaman obat dari bentuk yang tidak mirip asalnya. Jadi bayangkan saja, semua bumbu dapur yang ada, seperti jahe, merica, kunyit, lengkuas dll dibuat serbuk lalu dijadikan 1. Terus dengan menggunakan mikroskop, kita diajari untuk menemukan serbuk itu berisi apa saja. Mirip pekerjaan detektif, menerka-nerka sesuatu.

Formulasi dasar itu adalah ilmu dasar banget dari Farmasi. Jadi sesuai namanya FORMULASI, berarti kita membuat formula obat. Tapi jangan dibayangkan yang rumit-rumit, disini formula yang dimaksud masih obat sederhana seperti bagaimana membuat puyer, membuat racikan cream, membuat suspensi, membuat supositoria. Belum banyak melibatkan teknologi, masih dasar banget. Tapi percaya lah untuk anak lulusan SMA (bukan SMF), mata kuliah ini cukup ribet. Salah satu contoh nyata adalah membungkus puyer, yang mana butuh latihan berkali-kali sampai saya bisa membungkus dengan sama besar. Sedangkan untuk teman-teman yang dari lulusan SMF, ppfft… mungkin mereka bisa membungkus puyer dengan mata tertutup saking terlatihnya.

Salah satu mata kuliah yang tidak akan pernah saya lupakan adalah Farmakologi Toksikologi. Ini juga mata kuliah dasar, pada intinya kita belajar mengenai golongan obat dan mekanisme aksinya. Pada dasarnya, sebelum kuliah dimulai saya sudah parno duluan karena dapat kabar dari kakak kelas bahwa harus menyuntik binatang-binatang di laboratorium. Dan memang benar! Hampir setiap minggu, kita selalu berurusan dengan praktikum hewan uji. Sampai yang akhirnya paling menakutkan adalah saat ujian menyuntik mencit (buat yang belum tau, mencit itu tikus putih kecil). Kenapa menakutkan? Pertama, karena saya takut segala jenis binatang, apalagi mencit. Kedua, kalau sampai mencitnya mati, nilai dipastikan 0 atau 20, tamat sudah riwayat. Ujian dilakukan individu, jadi bisa dibayangkan seorang mahasiswa yang takut sekali sama mencit, harus menjalani ujian langsung diawasi dosen dari jarak beberapa meter.

042116300_1476947902-LabMouse
Pict diakses dari http://www.liputan6.com

 

Mungkin hari itu Tuhan sedang baik pada saya, saat mengambil undian saya dapat rute injeksi sub-cutan, jadi tidak perlu menggunakan sonde di mulut atau injeksi intravena di ekor (yang mana keduanya sangat sangat menakutkan buat saya). Dan jrenggg jreenggg saya keluar ruangan dengan bangga karena mendapat nilai 70. Sungguh, begitu keluar ruangan saya langsung sujud sukur, mau menangis rasanya karena terlalu bahagia. Pengalaman semasa Fartok, tidak cuma itu saja. Tibalah saatnya ujian tulis, saya sudah belajar mati-matian, semati yang saya bisa. Sudah membuat rangkuman. Sudah membaca 75% isi buku. Saya hafal? Iya! Paham? Ngga.

Saat itu saya pikir ujian dalam bentuk soal essay, jadi seburuk-buruknya saya, paling tidak ada lah yang bisa saya tulis di kertas dari sekian halaman yang sudah saya hafalkan. Tapi kenyataannya, ujian adalah sistem 1 menit pindah. Jadi ada sekitar 30 soal yang tersebar dalam jarak beberapa meter, masing-masing orang diberi waktu 1 menit untuk menjawab soal tentang golongan obat dan mekanisme. Setelah 1 menit, kita pindah pos untuk menjawab soal berikutnya. Entah karena terlalu takut atau mungkin memang tidak paham, dari 30 soal obat saya hanya bisa menjawab 1 soal. Apa yang sudah saya hafalkan entah tersimpan di laci mana di otak saya, satu pun tidak ada yang bisa saya gunakan untuk menjawab soal. Alhasil bisa ditebak, saya ikut ujian perbaikan. Sendirian? Oooh tentu tidak, saya perbaikan bersama seluruh mahasiswa di 1 angkatan! Ha ha ha…

Bentuk ujian lain yang tidak akan pernah saya lupakan juga adalah membuat paper. Jadi, masing-masing dari kami mendapat soal yang berbeda-beda, tapi semua soal mirip dimana kami harus membuat makalah tentang 1 percobaan dan menjawab beberapa soal, hasil ujian harus dikumpulkan dalam bentuk CD dalam waktu 2 jam. Kami bebas mau mengerjakan dimana dan bersama siapa, as long as pada waktu yg telah ditentukan sudah terkumpul hasilnya. Apa yang pertama kali kami lakukan? Panik! Panik mencari dimana tempat bekerja dan panik bagaimana cara mengerjakan. Akhirnya setelah bingung-bingung tidak jelas selama 15 menit, saya dan beberapa teman dekat memutuskan untuk bekerja di kos, yang cuma berjarak 5 menit dari kampus. Tepat 15 menit sebelum pengumpulan, kami sudah mulai memasukkan jawaban ke CD, dan lebih panik lagi karena beberapa laptop teman saya tidak bisa memproses, jadi harus bergantian mengkopi file ke CD. Sementara itu waktu terus berjalan menit demi menit. Panik sudah berubah menjadi histeris. Begitu semua CD terisi jawaban masing-masing mahasiswa, kami semua langsung berlari keluar kos menuju kampus. Dan ketika kelaur dari kos, dari arah utara selatan barat timur, banyak mahasiswa 1 angkatan yang berlari-lari juga demi memburu waktu pengumpulan. Sebagai gambaran, 1 angkatan saya semasa itu sekitar 250an orang, bisa dibayangkan betapa tidak kondusifnya di menit menit terakhir pengumpulan. Semua saling berteriak dari ujung ke ujung, tarik tarik baju, berdesak-desakan di depan pintu demi mengejar waktu pengumpulan yang kurang dari 2 menit. Sementara yang lain dengan garang berdesak-desakan mengumpulkan CD, yang lain menonton dari jauh sambil ikut berteriak dan gigit-gigit kuku karena cemas. Dan tepat di jam pengumpulan berakhir, ketika dosen saya sudah menutu waktu pengumpulan, masih ada beberapa anak yang baru tiba dan terlambat. Ibarat sebuah film, tiba-tiba kondisi berubah menjadi drama. Kami melihat mereka terdiam ketika CDnya ditolak, ada yang menangis, ada yang tertunduk lemas, ada yang marah dan membanting CDnya ke tanah, ada yang tiba-tiba menjadi pucat seolah akan pingsan. Kami hanya bisa menenangkan dan berusaha menguatkan mereka yang pada akhirnya gugur di medan perang.

consoling-a-friend-2-girls.jpg
Pict diakses dari http://qhvsg.org.au

Oke, kembali ke topik ya. Semua kondisi yang aman-aman damai ini memang harusnya patut dicurigai. Sama seperti roller coaster, tidak selamanya semua mulus dan lurus. Akan ada saatnya dimana saya akan merasakan keretanya meluncur tiba-tiba ke bawah di saat saya belum siap. Dan itu terjadi saat saya berada di semester ke-3 saya. Kereta saya terjun ke bawah secara mendadak dan mendadak dunia saya yang awalnya bahagia menjadi gelap secara tiba-tiba…….

 

Some Old Memories

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman dan mengunjungi rumah nenek, yang juga merupakan rumah masa kecil saya. Beberapa sudut dari rumah tersebut memang sudah mengalami perubahan di sana-sini, efek dari renovasi. Tapi beberapa masih dalam kondisi sama seperti dulu, sama seperti 20 tahun yang lalu, atau bahkan  jauh sebelum itu. Beberapa sudut mengingatkan saya akan kenangan-kenangan masa kecil saya bersama dengan orang-orang yang saya sayangi, yang sekarang sudah tiada. Benda-benda dan pernak-pernik kecil membawa saya pada memori 20 tahun yang lalu.

Melihat hal-hal bersejarah ini terkadang membuat saya ingin untuk kembali ke masa lalu saya, bukan untuk merubah apa yang pernah saya lewati, tapi untuk merasakan apa yang pernah terjadi untuk yang kedua kalinya. Kembali untuk merasakan setiap kenangan yang pernah saya jalani.  Ya, karena seperti quote dari Joseph B.Wirthlin, Some memories are unforgettable, remaining ever vivid, and heartwarming. 

 

IMG_20180225_133629_615
Foto kuno yang dipajang di dinding ruang makan, usianya lebih tua dari saya

 

IMG_20180225_133618_895
Pajangan bunga dan singa di salah satu sudut ruang makan

 

IMG_20180225_135410_342
Lampu kuno di pilar ruang tamu. Dulu sering dinyalakan oleh alm.kakek dan nenek saya saat hari sudah mulai gelap. Lampunya kekuningan dan cahayanya samar.

 

IMG_20180225_135607_635
Mesin jahit yang sampai sekarang masih bisa digunakan. 

 

IMG_20180225_135551_934
Rangkaian bunga di lemari ruang tamu, yang tidak pernah berubah susunan bunganya

 

IMG_20180225_134203_611
tumpukan majalah lama. Dulu sepulang dari SD, saya selalu naik ke lantai atas rumah untuk mencari majalah ini. Hanya bagian belakang yang saya cari, komik si Toki.

 

IMG_20180225_135944_381
salah satu sudut di lantai 2 rumah. Kursi kayu, meja kayu, pot bunga dan beberapa asbak kuno.

Why I love Being a Pharmacist

vintageimagehappiness.jpg

Pict available on : My Friend Betty Says

 

Percakapan simple saat bertemu orang yang lama tidak ditemui, lalu tidak sengaja berpapasan di jalan :

Mr/Mrs. X    : Sudah lulus kuliah ya sekarang? Kerja dimana sekarang? Jadi apa?

Me                 : Sudah lulus, sekarang jadi Apoteker di rumah sakit.

Mr/Mrs.X     : Oh, bukannya apoteker kerjanya di apotek? Bisa ya kerja di rumah sakit?

Me                : Bisa dong 🙂

Mr/Mrs.X    : Kenapa mau kerja di rumah sakit? Kok dulu milih jurusan apoteker, ngga                             dokter saja kalo mau kerja di rumah sakit?

Me               : . . . . .  (berpikir)

Jujur saja, sampai saat ini ketika saya mendapatkan pertanyaan “kenapa memilih apoteker, kenapa mau bekerja di rumah sakit?”, saya masih harus diam beberapa detik untuk berpikir. Cerita yang sebenarnya adalah saya juga tidak tahu apa alasan yang tepat kenapa pada akhirnya saya memutuskan menjadi seorang apoteker di rumah sakit. I just love it….

Oke, mungkin saya akan mulai menjelasakan bagaimana awalnya saya memilih jurusan Farmasi yang kemudian mengantarkan saya pada titik ini, menjadi apoteker. Duluuuu sekali, saat ditanya cita-cita saya waktu SD, jawaban saya bermacam-macam. Mulai dari pilot, astronot, guru, artis, penulis, pengacara, hakim, koki, dan dokter. Jawaban saya tentang pertanyaan itu tidak pernah konsisten, bergantung apa yang sedang saya gemari saat itu. Jadi contohnya, ketika saya sedang melihat tayangan televisi tentang dunia antariksa, cita-cita saya saat itu langsung berubah menjadi astronot. Children imitate what they see on TV, right?

www.dreams.metroeve.com-lap-dance-dreams-meaning.jpg

Pict available on : Dream Dictionary

Semakin bertambahnya usia, pada akhirnya membuat saya mengeliminasi beberapa cita-cita dengan sendirinya. Mungkin karena saya sudah melihat kenyataan dan realita sebenarnya dibalik masing-masing profesi itu, yang mana tidak semudah imajinasi saya saat kecil. Contohnya menjadi astronot ternyata bukan hanya betapa serunya melayang-layang di luar angkasa dengan zero gravitation, tapi bagaimana saya harus bisa melakukan perhitungan-perhitungan rumit dengan ilmu astronomi dan fisika. Untuk tipe saya yang pusing dengan rumus impuls dan momentum, kecepatan angular, gerak parabola, dan sebagainya itu, sepertinya astronot tidak bisa menjadi pilihan hidup saya.

Sementara beberapa cita-cita terhapus, beberapa cita-cita masih tetap bertahan. Dua yang masih bertahan hingga saya SMA adalah menjadi dokter dan ilmuwan. Kenapa dokter? Hmm.. mungkin karena saya kagum dengan dokter-dokter yang mengenakan jas putih, memeriksa pasien dengan stetoskop, lalu menjelaskan penyakit pasien di balik mejanya dan dengan kerennya lalu menuliskan nama-nama obat yang tidak bisa saya baca di kertas resep. They look so cool!!!!

Laluuuu, kenapa ilmuwan? Karena saya suka pelajaran kimia. Kimia yang kata orang sulit, membosankan, dll, justru di mata saya terlihat sangat menyenangkan. Saya merasa menjadi orang yang sangat sangat keren, ketika bisa memindahkan cairan-cairan berwarna terang ke tabung reaksi, mengukur cairan-cairan, memanaskan dengan lampu bunsen, dan melihat adanya perubahan-perubahan yang terjadi untuk ditulis di buku.

Singkat cerita, di akhir masa SMA saya, saya harus benar-benar memutuskan mau memilih jurusan apa nantinya di perguruan tinggi. Waktu itu ada 3 list jurusan yang ada di pikiran saya : Kedokteran, Teknik Kimia, atau Farmasi. Bukan pilhan yang mudah memang, butuh berhari-hari bagi saya buat benar-benar memutuskan apa yang saya inginkan.  Dan pada akhirnya pilihan saya jatuh pada Farmasi. Bukan kedokteran, karena pada waktu itu saya masih belum bisa menyanggupi diri untuk melihat mayat apalagi membedahnya, dan alasan paling utama : I HATE BIOLOGY (yang ternyata masih saya temui di Farmasi, ha ha ha). Pilihan hanya teknik kimia atau farmasi. Pilihan jatuh ke Farmasi, karena saya pikir mendalami molekul-molekul obat akan sangat-sangat menarik (menarik? really?).

Selama 4,5 tahun akhirnya saya bergelut di bidang Farmasi. Apakah sepanjang itu saya tidak pernah menyesali keputusan saya? Tidak. Tidak pernah. Saya akui perjalanan kuliah saya tidak selalu mulus, ada kalanya saya begitu stress dengan mata kuliah saya yang tidak mudah, saya depresi dengan jadwal kuliah yang sangat sangat padat, saya kesal dengan tugas-tugas dan deadline yang menggunung, semua memang melelahkan. (Mungkin suatu saat, saya akan buat postingan tentang suka duka kuliah Farmasi, bekal buat adik-adik yang sedang kuliah Farmasi atau akan kuliah Farmasi).

Selama kuliah di Farmasi itu, saya juga menyadari bahwa dunia Farmasi itu begitu luass.. luass… dan luassss…. Bukan cuma menggerus obat jadi puyer di apotek, tapi lebih dari itu! Tahukah kalian, bahwa obat atau vitamin yang kita minum, mulai dari bahan baku, dibuat jadi obat, dikemas dalam wadah, didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan, di simpan, bahkan diserahkan oleh seorang pharmacist (apoteker). Bayangkan saja, ada berapa juta jenis obat dan vitamin di dunia ini, dan bayangkan berapa banyak apoteker di balik semua pekerjaan-pekerjaan itu. Lebih keren lagi, pernahkan kalian membayangkan bagaimana ceritanya dari molekul-molekul yang tak kasat mata itu disintesis sedemikian rupa hingga jadi beraneka macam obat? obat pusing, obat panas, obat darah tinggi, obat diabetes, dan lain-lain yang bisa menyembuhkan pasien? Rantai-rantai kimia harus direaksikan sedemikian rupa yang akhirnya bisa jadi obat, dan bagaimana obat-obat itu harus disesuaikan dosisnya agar bisa berkhasiat menyembuhkan, bukan mematikan. Woaaaa.. keren kan?

Hal-hal mereaksikan molekul-molekul kimia dan membuat obat adalah tugas seorang apoteker yang bekerja di bidang industri. YAPS! Mereka lah yang bertanggung jawab terhadap kualitas sebuah obat mulai dari bahan baku sampai jadi obat yang siap diminum. Lalu bagaimana dengan apoteker seperti saya yang bekerja di komunitas? Kita apoteker yang bekerja di komunitas adalah garda pelayanan kepada pasien. Jadiiii, setelah pasien diperiksa oleh dokter, dokter akan meresepkan obat. Resep itu akan diterima oleh kita apoteker, ditelaah (dicek dosis obat, kesesuaian obat dll) dan disiapkan. Setelah itu, obat-obat itu akan diserahkan kepada pasien oleh apoteker juga. Jadi, tugas kita lah yang memastikan bahwa obat-obat itu diminum sesuai petunjuk oleh pasien (2x sehari, 3x sehari, sebelum sesudah makan dll). Sudah sampai situ saja? Oh tidak, kami juga harus memastikan bahwa pasien mengkonsumsi obat itu dengan aman dan efektif. Maksutnya, pasien tidak mengalami efek samping atau hal-hal lain yang tidak diinginkan dari obat. Tidak kalah keren kan?

Oke, kembali kepada topik. Kenapa kok saya memilih bekerja di bidang pelayanan? bukan di industri saja? Hmm… sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa. Tidak ada alasan khusus kenapa saya mau membaktikan diri saya di pelayanan. Tapi mungkin, saya menemukan kebahagiaan saya ketika saya melayani pasien. Saya menemukan kebahagiaan ketika saya melihat pasien yang kemarin datang ke rumah sakit dengan wajah kusut karena sakit, lalu di hari lain saya melihat dia dalam kondisi bahagia karena sehat. Saya menemukan kebahagiaan ketika ilmu saya bisa saya bagikan kepada mereka, sehingga mereka lebih paham dengan obat-obat yang mereka minum. Saya menemukan kebahagiaan ketika mereka datang mencari saya untuk menanyakan obat-obat yang mereka minum, lalu pulang dengan wajah yang puas karena informasi yang bisa saya bagikan.

Saya tahu, kesembuhan pasien bukan hanya tentang obat yang mereka minum. Kesembuhan pasien ada karena kerja keras semua pihak, dokter, perawat, bidan, analis, radiologist, fisiotherapist, dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya, dan tentu saja karena campur tangan Tuhan. Kesembuhan pasien adalah hal yang kompleks.

Tapi bagi saya, menjadi salah satu bagian dari mereka yang berjuang demi kesehatan pasien adalah hal yang paling membahagiakan dan membanggakan dalam hidup saya. I finally found my own version of true happiness…

 

 

Dimulai dari Sehelai Kertas Kosong

write-696x463

Hello readers!!! Welcome to my blog…

Ini adalah pos pertamaku di blog ini. To be honest, sebelumnya aku sudah pernah melahirkan 2 blog yang pada akhirnya …hmm… tidak terawat dan akhirnya hilang dari peredaran. Hahaha…. maafkeun saya 2 blog terdahulu..

Well, kenapa aku memutuskan untuk kembali menulis di blog? Sebenernya keinginan untuk melahirkan sebuah blog sudah muncul jauh-jauh hari, tapi karena kesibukan disana-sini, mulai dari urusan kuliah sampe kerja (serta rasa mager), akhirnya terus tertunda-tunda. Sampai akhirnya, kemarin….. aku menemukan sebuah bacaan yang sangat menginspirasi yang akhirnya menuntunku kembali menulis.

Let me show you….

9789792268379_tuhan-tak-pernah-tidur-_cover-baru_

Buku dari Regina Brett ini yang pada akhirnya membawa aku untuk menulis. Sekilas terlihat seperti buku rohani ya. Hmm.. sebenernya memang beberapa chapter di buku ini berisi hal-hal rohani, tapi mostly lebih ke arah motivasi hidup. Aku baru membaca beberapa chapter dalam buku ini, dan tepat kemarin, aku sampai pada Chapter 18 : Penulis adalah seseorang yang menulis. Jika anda ingin menjadi Penulis, menulislah.  Berikut salah satu kutipan yang sangat memotivasi :

“Menulis memang sesederhana itu. Begitu pula semua proyek dan rencana yang tampak sangat besar jika kita melakukannya sepotong demi sepotong, burung demi burung. Selesaikan satu cerita pendek. Satu puisi. Buat komitmen untuk menyelesaikan” (p.104)

Bagian bab itu bercerita bagaimana pada akhirnya seorang Regina Brett yang sebelumnya tidak tahu apa yang dia sukai, tidak tahu bagaimana cara berbahagia, akhirnya menemukan bahwa dengan menulis dia menemukan dunianya. Menulis bukan sesuatu yang sulit, hanya saja membutuhkan komitmen. Komitmen untuk memulai dan komitmen untuk menyelesaikan. Bagian terbaik dari chapter itu adalah ketika Brett menjelaskan bahwa tidak ada cara terbaik yang membawamu untuk menulis selain menyingkirkan rutinitas sehari-harimu sesaat dan mulai duduk untuk menulis.

So, here i am, sitting in front of my laptop and start my first blank page.