Some Old Memories

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman dan mengunjungi rumah nenek, yang juga merupakan rumah masa kecil saya. Beberapa sudut dari rumah tersebut memang sudah mengalami perubahan di sana-sini, efek dari renovasi. Tapi beberapa masih dalam kondisi sama seperti dulu, sama seperti 20 tahun yang lalu, atau bahkan  jauh sebelum itu. Beberapa sudut mengingatkan saya akan kenangan-kenangan masa kecil saya bersama dengan orang-orang yang saya sayangi, yang sekarang sudah tiada. Benda-benda dan pernak-pernik kecil membawa saya pada memori 20 tahun yang lalu.

Melihat hal-hal bersejarah ini terkadang membuat saya ingin untuk kembali ke masa lalu saya, bukan untuk merubah apa yang pernah saya lewati, tapi untuk merasakan apa yang pernah terjadi untuk yang kedua kalinya. Kembali untuk merasakan setiap kenangan yang pernah saya jalani.  Ya, karena seperti quote dari Joseph B.Wirthlin, Some memories are unforgettable, remaining ever vivid, and heartwarming. 

 

IMG_20180225_133629_615
Foto kuno yang dipajang di dinding ruang makan, usianya lebih tua dari saya

 

IMG_20180225_133618_895
Pajangan bunga dan singa di salah satu sudut ruang makan

 

IMG_20180225_135410_342
Lampu kuno di pilar ruang tamu. Dulu sering dinyalakan oleh alm.kakek dan nenek saya saat hari sudah mulai gelap. Lampunya kekuningan dan cahayanya samar.

 

IMG_20180225_135607_635
Mesin jahit yang sampai sekarang masih bisa digunakan. 

 

IMG_20180225_135551_934
Rangkaian bunga di lemari ruang tamu, yang tidak pernah berubah susunan bunganya

 

IMG_20180225_134203_611
tumpukan majalah lama. Dulu sepulang dari SD, saya selalu naik ke lantai atas rumah untuk mencari majalah ini. Hanya bagian belakang yang saya cari, komik si Toki.

 

IMG_20180225_135944_381
salah satu sudut di lantai 2 rumah. Kursi kayu, meja kayu, pot bunga dan beberapa asbak kuno.
Iklan

Why I love Being a Pharmacist

vintageimagehappiness.jpg

Pict available on : My Friend Betty Says

 

Percakapan simple saat bertemu orang yang lama tidak ditemui, lalu tidak sengaja berpapasan di jalan :

Mr/Mrs. X    : Sudah lulus kuliah ya sekarang? Kerja dimana sekarang? Jadi apa?

Me                 : Sudah lulus, sekarang jadi Apoteker di rumah sakit.

Mr/Mrs.X     : Oh, bukannya apoteker kerjanya di apotek? Bisa ya kerja di rumah sakit?

Me                : Bisa dong 🙂

Mr/Mrs.X    : Kenapa mau kerja di rumah sakit? Kok dulu milih jurusan apoteker, ngga                             dokter saja kalo mau kerja di rumah sakit?

Me               : . . . . .  (berpikir)

Jujur saja, sampai saat ini ketika saya mendapatkan pertanyaan “kenapa memilih apoteker, kenapa mau bekerja di rumah sakit?”, saya masih harus diam beberapa detik untuk berpikir. Cerita yang sebenarnya adalah saya juga tidak tahu apa alasan yang tepat kenapa pada akhirnya saya memutuskan menjadi seorang apoteker di rumah sakit. I just love it….

Oke, mungkin saya akan mulai menjelasakan bagaimana awalnya saya memilih jurusan Farmasi yang kemudian mengantarkan saya pada titik ini, menjadi apoteker. Duluuuu sekali, saat ditanya cita-cita saya waktu SD, jawaban saya bermacam-macam. Mulai dari pilot, astronot, guru, artis, penulis, pengacara, hakim, koki, dan dokter. Jawaban saya tentang pertanyaan itu tidak pernah konsisten, bergantung apa yang sedang saya gemari saat itu. Jadi contohnya, ketika saya sedang melihat tayangan televisi tentang dunia antariksa, cita-cita saya saat itu langsung berubah menjadi astronot. Children imitate what they see on TV, right?

www.dreams.metroeve.com-lap-dance-dreams-meaning.jpg

Pict available on : Dream Dictionary

Semakin bertambahnya usia, pada akhirnya membuat saya mengeliminasi beberapa cita-cita dengan sendirinya. Mungkin karena saya sudah melihat kenyataan dan realita sebenarnya dibalik masing-masing profesi itu, yang mana tidak semudah imajinasi saya saat kecil. Contohnya menjadi astronot ternyata bukan hanya betapa serunya melayang-layang di luar angkasa dengan zero gravitation, tapi bagaimana saya harus bisa melakukan perhitungan-perhitungan rumit dengan ilmu astronomi dan fisika. Untuk tipe saya yang pusing dengan rumus impuls dan momentum, kecepatan angular, gerak parabola, dan sebagainya itu, sepertinya astronot tidak bisa menjadi pilihan hidup saya.

Sementara beberapa cita-cita terhapus, beberapa cita-cita masih tetap bertahan. Dua yang masih bertahan hingga saya SMA adalah menjadi dokter dan ilmuwan. Kenapa dokter? Hmm.. mungkin karena saya kagum dengan dokter-dokter yang mengenakan jas putih, memeriksa pasien dengan stetoskop, lalu menjelaskan penyakit pasien di balik mejanya dan dengan kerennya lalu menuliskan nama-nama obat yang tidak bisa saya baca di kertas resep. They look so cool!!!!

Laluuuu, kenapa ilmuwan? Karena saya suka pelajaran kimia. Kimia yang kata orang sulit, membosankan, dll, justru di mata saya terlihat sangat menyenangkan. Saya merasa menjadi orang yang sangat sangat keren, ketika bisa memindahkan cairan-cairan berwarna terang ke tabung reaksi, mengukur cairan-cairan, memanaskan dengan lampu bunsen, dan melihat adanya perubahan-perubahan yang terjadi untuk ditulis di buku.

Singkat cerita, di akhir masa SMA saya, saya harus benar-benar memutuskan mau memilih jurusan apa nantinya di perguruan tinggi. Waktu itu ada 3 list jurusan yang ada di pikiran saya : Kedokteran, Teknik Kimia, atau Farmasi. Bukan pilhan yang mudah memang, butuh berhari-hari bagi saya buat benar-benar memutuskan apa yang saya inginkan.  Dan pada akhirnya pilihan saya jatuh pada Farmasi. Bukan kedokteran, karena pada waktu itu saya masih belum bisa menyanggupi diri untuk melihat mayat apalagi membedahnya, dan alasan paling utama : I HATE BIOLOGY (yang ternyata masih saya temui di Farmasi, ha ha ha). Pilihan hanya teknik kimia atau farmasi. Pilihan jatuh ke Farmasi, karena saya pikir mendalami molekul-molekul obat akan sangat-sangat menarik (menarik? really?).

Selama 4,5 tahun akhirnya saya bergelut di bidang Farmasi. Apakah sepanjang itu saya tidak pernah menyesali keputusan saya? Tidak. Tidak pernah. Saya akui perjalanan kuliah saya tidak selalu mulus, ada kalanya saya begitu stress dengan mata kuliah saya yang tidak mudah, saya depresi dengan jadwal kuliah yang sangat sangat padat, saya kesal dengan tugas-tugas dan deadline yang menggunung, semua memang melelahkan. (Mungkin suatu saat, saya akan buat postingan tentang suka duka kuliah Farmasi, bekal buat adik-adik yang sedang kuliah Farmasi atau akan kuliah Farmasi).

Selama kuliah di Farmasi itu, saya juga menyadari bahwa dunia Farmasi itu begitu luass.. luass… dan luassss…. Bukan cuma menggerus obat jadi puyer di apotek, tapi lebih dari itu! Tahukah kalian, bahwa obat atau vitamin yang kita minum, mulai dari bahan baku, dibuat jadi obat, dikemas dalam wadah, didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan, di simpan, bahkan diserahkan oleh seorang pharmacist (apoteker). Bayangkan saja, ada berapa juta jenis obat dan vitamin di dunia ini, dan bayangkan berapa banyak apoteker di balik semua pekerjaan-pekerjaan itu. Lebih keren lagi, pernahkan kalian membayangkan bagaimana ceritanya dari molekul-molekul yang tak kasat mata itu disintesis sedemikian rupa hingga jadi beraneka macam obat? obat pusing, obat panas, obat darah tinggi, obat diabetes, dan lain-lain yang bisa menyembuhkan pasien? Rantai-rantai kimia harus direaksikan sedemikian rupa yang akhirnya bisa jadi obat, dan bagaimana obat-obat itu harus disesuaikan dosisnya agar bisa berkhasiat menyembuhkan, bukan mematikan. Woaaaa.. keren kan?

Hal-hal mereaksikan molekul-molekul kimia dan membuat obat adalah tugas seorang apoteker yang bekerja di bidang industri. YAPS! Mereka lah yang bertanggung jawab terhadap kualitas sebuah obat mulai dari bahan baku sampai jadi obat yang siap diminum. Lalu bagaimana dengan apoteker seperti saya yang bekerja di komunitas? Kita apoteker yang bekerja di komunitas adalah garda pelayanan kepada pasien. Jadiiii, setelah pasien diperiksa oleh dokter, dokter akan meresepkan obat. Resep itu akan diterima oleh kita apoteker, ditelaah (dicek dosis obat, kesesuaian obat dll) dan disiapkan. Setelah itu, obat-obat itu akan diserahkan kepada pasien oleh apoteker juga. Jadi, tugas kita lah yang memastikan bahwa obat-obat itu diminum sesuai petunjuk oleh pasien (2x sehari, 3x sehari, sebelum sesudah makan dll). Sudah sampai situ saja? Oh tidak, kami juga harus memastikan bahwa pasien mengkonsumsi obat itu dengan aman dan efektif. Maksutnya, pasien tidak mengalami efek samping atau hal-hal lain yang tidak diinginkan dari obat. Tidak kalah keren kan?

Oke, kembali kepada topik. Kenapa kok saya memilih bekerja di bidang pelayanan? bukan di industri saja? Hmm… sejujurnya saya juga tidak tahu kenapa. Tidak ada alasan khusus kenapa saya mau membaktikan diri saya di pelayanan. Tapi mungkin, saya menemukan kebahagiaan saya ketika saya melayani pasien. Saya menemukan kebahagiaan ketika saya melihat pasien yang kemarin datang ke rumah sakit dengan wajah kusut karena sakit, lalu di hari lain saya melihat dia dalam kondisi bahagia karena sehat. Saya menemukan kebahagiaan ketika ilmu saya bisa saya bagikan kepada mereka, sehingga mereka lebih paham dengan obat-obat yang mereka minum. Saya menemukan kebahagiaan ketika mereka datang mencari saya untuk menanyakan obat-obat yang mereka minum, lalu pulang dengan wajah yang puas karena informasi yang bisa saya bagikan.

Saya tahu, kesembuhan pasien bukan hanya tentang obat yang mereka minum. Kesembuhan pasien ada karena kerja keras semua pihak, dokter, perawat, bidan, analis, radiologist, fisiotherapist, dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya, dan tentu saja karena campur tangan Tuhan. Kesembuhan pasien adalah hal yang kompleks.

Tapi bagi saya, menjadi salah satu bagian dari mereka yang berjuang demi kesehatan pasien adalah hal yang paling membahagiakan dan membanggakan dalam hidup saya. I finally found my own version of true happiness…

 

 

Dimulai dari Sehelai Kertas Kosong

write-696x463

Hello readers!!! Welcome to my blog…

Ini adalah pos pertamaku di blog ini. To be honest, sebelumnya aku sudah pernah melahirkan 2 blog yang pada akhirnya …hmm… tidak terawat dan akhirnya hilang dari peredaran. Hahaha…. maafkeun saya 2 blog terdahulu..

Well, kenapa aku memutuskan untuk kembali menulis di blog? Sebenernya keinginan untuk melahirkan sebuah blog sudah muncul jauh-jauh hari, tapi karena kesibukan disana-sini, mulai dari urusan kuliah sampe kerja (serta rasa mager), akhirnya terus tertunda-tunda. Sampai akhirnya, kemarin….. aku menemukan sebuah bacaan yang sangat menginspirasi yang akhirnya menuntunku kembali menulis.

Let me show you….

9789792268379_tuhan-tak-pernah-tidur-_cover-baru_

Buku dari Regina Brett ini yang pada akhirnya membawa aku untuk menulis. Sekilas terlihat seperti buku rohani ya. Hmm.. sebenernya memang beberapa chapter di buku ini berisi hal-hal rohani, tapi mostly lebih ke arah motivasi hidup. Aku baru membaca beberapa chapter dalam buku ini, dan tepat kemarin, aku sampai pada Chapter 18 : Penulis adalah seseorang yang menulis. Jika anda ingin menjadi Penulis, menulislah.  Berikut salah satu kutipan yang sangat memotivasi :

“Menulis memang sesederhana itu. Begitu pula semua proyek dan rencana yang tampak sangat besar jika kita melakukannya sepotong demi sepotong, burung demi burung. Selesaikan satu cerita pendek. Satu puisi. Buat komitmen untuk menyelesaikan” (p.104)

Bagian bab itu bercerita bagaimana pada akhirnya seorang Regina Brett yang sebelumnya tidak tahu apa yang dia sukai, tidak tahu bagaimana cara berbahagia, akhirnya menemukan bahwa dengan menulis dia menemukan dunianya. Menulis bukan sesuatu yang sulit, hanya saja membutuhkan komitmen. Komitmen untuk memulai dan komitmen untuk menyelesaikan. Bagian terbaik dari chapter itu adalah ketika Brett menjelaskan bahwa tidak ada cara terbaik yang membawamu untuk menulis selain menyingkirkan rutinitas sehari-harimu sesaat dan mulai duduk untuk menulis.

So, here i am, sitting in front of my laptop and start my first blank page.